Lompat ke isi utama

Berita

Ngabuburit Pengawasan: Bawaslu Manggarai Barat Perkuat Spirit dan Integritas Kelembagaan

Ngabuburit Pengawasan: Bawaslu Manggarai Barat Perkuat Spirit dan Integritas Kelembagaan

Jajaran Bawaslu Manggarai Barat Dan KPUD Manggarai Barat

Badan Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Manggarai Barat menggelar kegiatan bertajuk “Menguatkan Spirit Pengawasan dan Penguatan Spirit Lembaga” pada Selasa, 4 Maret 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari pembinaan internal sekaligus momentum refleksi spiritual dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Acara yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan tersebut dihadiri oleh pimpinan dan jajaran sekretariat Bawaslu Kabupaten Manggarai Barat, beserta Komisioner KPUD Azis dan staf. Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum silaturahmi, tetapi juga ruang penguatan nilai-nilai moral, disiplin, dan integritas dalam menjalankan mandat pengawasan pemilu.

Ketua Bawaslu Kabupaten Manggarai Barat, Maria Magdalena S. Seriang, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan ibadah ritual, melainkan bulan pendidikan karakter. Ia berharap bahwa bagi sahabat-sahabat Muslim, puasa adalah kesempatan berharga untuk melatih kesabaran, kejujuran, ketekunan, serta tanggung jawab moral yang berdampak langsung pada kualitas kinerja kelembagaan.

“Semangat Ramadan harus menjadi energi baru bagi seluruh jajaran pengawas pemilu. Integritas bukan hanya soal kepatuhan pada aturan, tetapi juga soal kesadaran batin dalam menjaga amanah,” ujarnya.

Hadir sebagai narasumber, Azis, Komisioner Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Manggarai Barat yang menjabat sebagai Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat. Dalam pemaparannya, Azis menyampaikan bahwa ibadah puasa memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tugas-tugas penyelenggara maupun pengawas pemilu, terutama dalam konteks menjaga integritas, profesionalitas, dan kepercayaan publik terhadap lembaga demokrasi.

Ia menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, melainkan sebuah proses pembentukan karakter yang menyeluruh. Puasa melatih pengendalian diri, kesabaran dalam menghadapi tekanan, kemampuan menahan emosi, keteguhan dalam memegang prinsip, serta konsistensi dalam memelihara nilai-nilai moral. Menurutnya, nilai-nilai tersebut merupakan fondasi utama dalam menjalankan tugas-tugas publik yang sarat dengan tantangan, dinamika, dan sorotan masyarakat.

“Puasa mengajarkan kita untuk tetap jujur meski tidak ada yang melihat. Dalam ibadah puasa, tidak ada manusia yang benar-benar mengetahui apakah seseorang berpuasa atau tidak, namun ia tetap menjalaninya karena keyakinan bahwa Allah Maha Melihat. Nilai inilah yang sangat penting dalam tugas-tugas publik, terutama dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemilu,” ungkapnya.

Menurut Azis, momentum Ramadan hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai agenda tahunan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang evaluasi diri. Setiap penyelenggara pemilu perlu bertanya pada dirinya sendiri: sejauh mana amanah telah dijalankan dengan penuh tanggung jawab, dan sejauh mana integritas tetap dijaga dalam setiap situasi.

Dengan demikian, puasa tidak berhenti pada dimensi spiritual semata, tetapi terimplementasi secara nyata dalam perilaku kerja sehari-hari. Nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang ditempa selama Ramadan diharapkan terus hidup dan menjadi budaya kerja sepanjang waktu dalam menjaga kualitas demokrasi.

Pada kesempatan yang sama, Frumensius Menti, Anggota Bawaslu Kabupaten Manggarai Barat, menyampaikan materi bertajuk “Puasa dan Kejujuran: Latihan Moral Tanpa Pengawasan.” Ia merefleksikan bahwa puasa merupakan ibadah yang sangat personal dan sarat makna integritas. Tidak ada manusia yang benar-benar mengetahui apakah seseorang berpuasa atau tidak, namun ia tetap menahan diri karena keyakinan bahwa Allah Maha Melihat.

Ia mengingatkan bahwa dalam konteks kelembagaan, pengawasan eksternal saja tidak cukup. Integritas sejati lahir dari kesadaran internal. Banyak pelanggaran terjadi bukan karena lemahnya regulasi, tetapi karena rapuhnya komitmen moral.

“Puasa melatih kejujuran tanpa pengawasan. Inilah fondasi utama dalam membangun lembaga yang berintegritas. Ketika nilai ini tertanam, maka pengawasan bukan lagi beban, melainkan tanggung jawab moral,” jelasnya.

Sementara itu, Muhammad Hamka, anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Manggarai Barat, menyampaikan bahwa puasa adalah momentum persiapan diri untuk sebelas bulan ke depan. Ia mengibaratkan puasa sebagai ruang pembinaan spiritual dan moral yang hasilnya harus tercermin dalam perilaku sepanjang tahun.

Dalam penyampaiannya, ia juga mengutip pemikiran filsuf Yunani kuno Socrates, “Hidup yang tidak direnungkan adalah hidup yang tidak layak dijalani.” Kutipan tersebut menjadi penegasan bahwa refleksi diri merupakan langkah awal membangun integritas pribadi dan kelembagaan. Melalui refleksi, setiap insan pengawas diharapkan mampu mengevaluasi diri, memperbaiki kekurangan, dan memperkuat komitmen pengabdian.

Kegiatan ini diakhiri dengan buka puasa bersama sebagai simbol harapan agar seluruh jajaran Bawaslu Kabupaten Manggarai Barat senantiasa diberikan kekuatan dalam menjalankan amanah pengawasan pemilu secara profesional, independen, dan berintegritas.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan spirit pengawasan tidak hanya bertumpu pada regulasi dan mekanisme formal, tetapi juga diperkuat oleh nilai-nilai spiritual yang membentuk karakter aparatur. Ramadan menjadi pengingat bahwa pengawasan terbaik lahir dari hati yang jujur, niat yang tulus, dan komitmen yang kokoh dalam menjaga demokrasi.

Tim Humas Bawaslu Mabar